Sunday, November 30, 2003

Perempuan-Perempuan Pembersih Kaca

Setiap kali hujan mereda, jalan dekat pintu air Manggarai, Jakarta Pusat, menjadi jalur yang sedikit angker. Apalagi menjelang senja, dan gerimis masih membasahi jalan. Di tikungan sepanjang jembatan, kerap muncul anak-anak muda kuyup dan kumal, menenteng ember dan sehelai kain, menghadang mobil yang melintas. Tiba-tiba dan mengejutkan.

Mereka segera mengelap kaca depan mobil, kaca samping pengemudi, seraya memaksa meminta uang seribu-dua ribu perak. Memang, tidak banyak, tapi ini sungguh menjengkelkan. Bagaimana bila recehan tak ada? Dinding mobil tentu akan tergores ujung paku atau beling yang mereka siapkan di dasar ember.

Itu dulu. Dan saya sempat berpikir, melap kaca untuk meminta uang hanya ada di Jakarta. Saya salah rupanya. Sore tadi, dari atas bis kota, saya dan Karin melintas Mill Bank Street di kawasan Vauxhall, di tengah kota. Tepat di lampu merah, oalaaa... saya tertawa. Tujuh perempuan muda tampak menenteng ember dan kuas pembersih kaca mendatangi mobil-mobil yang tengah berhenti di lampu merah, dan menawarkan jasa mengelap kaca.

Sebagian tengah menyemprot sabun, sebagian tengah berjalan menerobos sela-sela kendaraan mencari pengemudi yang sudi menerima jasa mereka yang hanya beberapa kejap itu. Dari raut wajah dan busananya, mereka tampaknya perempuan-perempuan pendatang dari kawasan Eropa Timur yang banyak berkeliaran di London, mencari donasi bagi hidup mereka.

Sebagian bahkan mengemis di setiap keramaian sembari menggendong bayi berkedok penjual majalah Big Issue -- mengingatkan saya pada pengemis di perempatan-perempatan jalan ibukota.

Mungkin bedanya hanya pada keramahan. Perempuan-perempuan pembersih kaca mobil itu tak memaksakan jasa. Kerja mereka pun tak tanggung-tanggung: kaca-kaca mobil sungguh mengkilap sesudahnya. Juga pada penampilan mereka yang lebih menawan, ketimbang anak-anak muda berbaju kumal di setiap senja seusai hujan di Manggarai.

Tapi namanya juga kerja ilegal, perempuan-perempuan ini segera berlarian begitu kendaraan polisi tampak berhenti di seberang jalan.

arungtasik@any-mail.co.uk

Friday, November 28, 2003

Tentang Jusuf Islam

Masih di suasana Lebaran, saya menampilkan tulisan tamu -- istri saya sendiri -- tentang penyanyi kondang Cat Steven. Tulisan ini dimuat di Rubrik Layar, Majalah TEMPO Edisi 13 November 2003. Saya mengubah satu kalimat agar sesuai dengan blog ini, juga menambah link ke beberapa situs yang bercerita tentang Cat Steven.

Menggantung Gitar, Menggantang Syiar

DI Royal Albert Hall, London, sejarah itu diputar. Tiga puluh satu tahun silam, seorang Cat Stevens menyihir penggemarnya. Khalayak Inggris masih mengingat jelas tampilannya saat itu: rambut gondrong, celana ketat, gitar dan --tak lupa-- segelas brandy sebelum dan sesudah show. Dua pekan lalu, sang bintang "pulang" ke panggung yang sama dalam rupa yang berbeda: baju gamis, lagu-lagu nasyid dan ucapan Assalamualaikum yang menggema seantero Hall. Itulah Night of Remembrance , malam dana untuk Islamia School , sekolah Islam terbesar di London yang didirikannya pada 1983.

Publik Inggris begitu bergairah menanti kembalinya Yusuf. Kabar yang dihembuskan media adalah ia akan kembali dengan lagu lamanya. Dalam Breakfast, acara berita pagi di BBC, sang penyiar bertanya, "Apakah Anda akan membawakan lagu-lagu lama?". Yang ditanya tersenyum, "Yang pasti, sekarang saya tak lagi memainkan gitar atau instrumen lain kecuali perkusi." Dan ternyata pertunjukan malam itu memang berlangsung tanpa hits-hits lamanya.

Cat Stevens memang tak sekedar mengganti namanya menjadi Yusuf Islam sejak dia menjadi muslim pada 1977, tapi mengubah seluruh gaya hidupnya. Kini ia lebih banyak berkutat di bidang pendidikan Islam lewat Islamia School di Queen's Park dan Kilburn, London. Berkat lobinya yang berliku, Islamia menjadi sekolah Islam pertama di Inggris yang diakui dan mendapat dana dari pemerintah -- fasilitas yang semula hanya dinikmati sekolah-sekolah Kristen dan Yahudi. "Semua tak lepas dari figur Yusuf yang berbuat sangat banyak bagi muslim Inggris," kata Hassan Radwan, salah seorang guru di Islamia. Saat mendirikan sekolah itu pada 1983, Yusuf lebih banyak menggunakan uang pribadinya ketimbang dana dari luar. Baru belakangan banyak sokongan dana dari berbagai sumber, termasuk pemerintah.

Sekolah ini terbagi empat, yaitu: Islamia Primary School (4-11 tahun), Islamia Girls Secondary School (11-16), Islamia 6th Form College (16-18) dan Brondesbury College For Boys (11-16). Saat saya mengunjungi Islamia School, kemegahan sekolah yang terbuat dari bata merah mendominasi kawasan Salisbury Road, Queen's Park. Gadis-gadis kecil berjilbab dari berbagai bangsa berlari-lari di lapangan, bercanda dan tertawa-tawa. Tak beda dengan siswa di sekolah umum.

Memang, yang membedakan hanya tambahan ilmu agama Islamnya, selebihnya pelajaran di sekolah ini serupa dengan yang lain. Tak heran jika para orangtua muslim berlomba mendaftarkan anaknya ke sini. Daftar tunggunya bisa bertahun-tahun karena jumlah peminat begitu membludak. Salah satunya, Nurani, ibu dari anak usia 3 tahun yang sudah mendaftar begitu sang anak lahir. "Kalau beruntung, enam tahun mendatang dia bisa masuk Islamia." Ia juga sudah menyiapkan cadangan sekolah lain karena kemungkinan itu dirasa tipis lantaran peminat juga melakukan jurus serupa untuk masuk sekolah ini.

Tak pelak, nama Yusuf Islam sebagai salah satu ikon muslim Inggris menjadi daya tarik dan jaminan mutu. Ia juga dianggap menjadi simbol dialog antaragama di Inggris. Tokoh-tokoh dunia banyak yang mendatangi sekolahnya. Termasuk Pangeran Charles, Prince of Wales, yang berkunjung ke Islamia beberapa tahun silam dan menjadi headline di koran-koran London.

Menjadi muslim tak selamanya mudah bagi Yusuf. Pada 1989, lagunya berjudul Peace Train dituding mendukung fatwa mati bagi Salman Rushdie yang dilontarkan Ayatollah Khomeini. Menurut Yusuf dalam wawancara dengan Majalah Rolling Stone untuk menjelaskan masalah itu, sebelumnya ia ditanya oleh wartawan, apakah akan ikut memprotes Satanic Verses-nya Salman Rushdie dan ia mengiyakan. Headline yang keluar di koran keesokan harinya adalah: Cat Says Kill Rushdie, sehingga Yusuf sempat "dimusuhi" publik Inggris dan Amerika Serikat. "Ini terjadi karena kebetulan saya adalah figur publik yang muslim," kata Yusuf. Belakangan, Ia malah dituduh sebagai pendukung gerakan teroris.

Toh, Yusuf Islam tetap harum di hati penggemarnya. Islam ataupun agama lain. Meski tak bermusik seperti dulu lagi, ia tetap aktif dengan caranya sendiri. "Saya tidak setuju bahwa semua jenis musik haram. Tapi saya juga tidak setuju bahwa semua jenis musik halal," kata Yusuf. Salah satu kegiatan bermusiknya adalah ada hubungannya dengan kegiatan amal. Seperti pada April lalu, Yusuf bersama sejumlah musisi antara lain Paul Mc Cartney, David Bowie dan George Michael, merekam album The Hope untuk menggalang dana bagi korban perang Irak.

Pada 1995, ia juga turun ke studio merekam album War Child untuk mencari donasi bagi korban perang Bosnia. Kini, ia meluncurkan album Idul Fitri untuk anak-anak bertitel I Look I See. Di tangan Yusuf, musik menjadi bahasa untuk menyampaikan syiar.

Andari Karina Anom (London)

arungtasik@any-mail.co.uk

Panci dari The 99p Store

Secarik kertas terpampang di kaca depan toko satu harga The 99p Store di Lewisham, sejak kemarin. Tidak seperti biasa -- iklan lowongan kerja paruh waktu menjelang Natal -- iklan itu berisi pengumuman tentang penarikan kembali (recalling) sejenis panji aluminium yang pernah dijual di toko ini sepanjang Februari hingga pertengahan November 2003.

Pemilik toko menyatakan, ada yang salah dengan panci itu dalam proses pembuatannya, dan mereka yang telanjur membelinya, boleh mengembalikannya ke toko ini -- meski dengan dasar yang telah menghitam -- dengan pengembalian uang penuh sesuai harganya.

Pengumuman seperti ini rupanya hal biasa di Inggris. Barang yang dijual, dan belakangan dikeluhkan beberapa pemakai, akan segera ditarik dari pasar dengan uang kembalian penuh, kadang-kadang disertai cindera mata.

Dan bukan hanya pemilik toko atau produsen, khalayak pembeli pun boleh melakukan hal yang sama setiap saat, hanya karena ketidakpuasan dalam memakai barang. Selalu ada tulisan pada kemasan gula pasir, buku, kamera digital: bila tak puas dengan barang ini, Anda boleh mengembalikannya dalam waktu 14 hari atau sebulan. Juga di Argos, toko aneka barang elektronik, perhiasan, perabot dan mainan anak, yang menjual lewat katalog di banyak tempat di kota ini.

Mengembalikan barang yang telah dibeli, sudah dipakai beberapa hari, juga amat mudah: datang saja ke toko itu, nyatakan ketidakpuasan (atau sekadar salah beli) tanpa harus merincinya, tinggalkan barangnya dan ambil duitnya. Prosesnya hanya memakan waktu beberapa menit, tanpa perlu bersitegang urat leher.

Saya ingat cerita seorang mahasiswi Indonesia, tentang kebiasaannya mengembalikan buku yang sudah ia baca ke toko buku penjualnya di London dengan alasan tak suka dengan isi buku itu. Kasir toko buku dengan tanpa komentar, mengembalikan uang pembelian buku itu.

Saya langsung berpikir, beginilah dua kultur yang bertemu: dari Indonesia datang dengan pikiran untuk berhemat uang buku, dan Inggris dengan tingkat kepercayaan dan pelayanan kepada konsumen yang begitu tinggi. Dan luhur.

Tentang kepercayaan dan pelayanan konsumen, paling gampang terlihat dari tidak adanya tempat penitipan tas atau jaket di setiap pintu masuk pasar swalayan atau toko buku. Orang-orang bebas lalu-lalang di dalam toko dengan menyandang ransel atau menenteng belanjaan dari toko sebelah, tanpa pemilik khawatir, mereka akan mengutil.

Boleh jadi, karena itu, saya tak pernah menemukan rubrik surat pembaca di surat-surat kabar di London, yang memuat tulisan tentang keluhan atau rasa tertipu seorang pembeli di sebuah toko -- seperti keluhan surat pembaca yang tak pernah absen di surat-surat kabar di Jakarta.

arungtasik@any-mail.co.uk

Thursday, November 27, 2003

Selamat Jalan Pak Manuhua

Sepekan ini, ada banyak kabar duka yang terdengar dari tanah air: dari kecelakaan kendaraan para pemudik, tabrakan kereta dengan bis, dan terakhir yang menghentak, kabar berpulangnya Bapak L.E. Manuhua. Mendiang tidak mengenal saya, tapi kepadanya kekaguman dan penghormatan saya tidak pernah luluh.

Kemarin, saya membaca berita kematian Copito de Nieve, gorila albino dari kebun binatang Barcelona yang sekaligus menjadi salah satu ikon kota di Spanyol itu. Di bulan Maret 1993, saya menulis cerita ringan di Rubrik Iptek Harian Pedoman Rakyat tentang Copito, Gorila Putih dari Barcelona ini -- yang membuat M. Hasymi meledek saya sebagai "pengamat binatang langka". Di "zaman teramat susah" itu tulisan tentang Copito ini, salah satu yang membuat saya tetap bisa memelihara napas di kota Makassar, lewat honorarium yang tidak seberapa, yang disodorkan Cindy -- putri Pak Manuhua -- dengan ekspresi khasnya, di lantai dua gedung Pedoman Rakyat di setiap penghujung bulan.

Di Pedoman Rakyat, koran yang dibangun Pak Manuhua, saya memulai menjejakkan kaki di dunia tulis-menulis. Di sana pula ada Pak Dahlan Abubakar, orang baik yang menjadikan saya seorang wartawan.

Saya mendengar kabar meninggalnya Pak Manuhua sehari setelah Idul Fitri yang sunyi. Saya tengah menikmati lagu-lagu klasik dari compact-disc sisipan koran akhir pekan di Lewisham, yang akhirnya menjadi kidung pengantar kesedihan saya. Dan ini tentu bukan kesedihan saya sendiri.

Selamat jalan -- dan terima kasih -- Pak Manuhua, semoga engkau menempuh jalan lapang, dan beroleh tempat yang amat layak di sisi-Nya.

arungtasik@any-mail.co.uk

Tuesday, November 25, 2003

Tentang Ida, Idul Fitri dan Rendang Basah

Namanya Ida, perempuan Indonesia bersuamikan lelaki asal Jamaika. Selasa pagi, seperti hari-hari sebelumnya, ia mengantar putrinya semata wayang yang baru berusia 2,5 tahun, Jeida ke sekolah balita di dekat Northbroke Park -- sebuah taman di belakang rumah kami di Ronver Road.

Dan pagi itu, Ida melempar senyumnya yang ramah mendengar saya dan Karin berbicara dalam bahasa Indonesia. Di atas bis 261 menuju Lewisham, ia duduk menyamping tepat di depan saya. Tentu saja, saya tak pernah berani menegur terlebih dahulu, orang-orang berwajah Asia di negeri ini. Beberapa kali saya kecele mengenali orang Vietnam dan Filipina, hanya karena wajahnya berona Melayu.

Pagi ini, kebetulan yang jarang itu datang. "Hai, dari Indonesia ya," katanya ramah. Ia kaget mendengar kami hendak menuju gedung Kedutaan Indonesia di Grosvenor Square di Central London. "Lo, bukannya besok Lebarannya? Saya masih puasa hari ini. Saya sempat makan sahur dinihari tadi." Ia benar-benar tak tahu, hari ini Idul Fitri.

Sudah dua tahun lebih ia di London, ikut suaminya, warga negara Inggris keturunan Afrika yang sehari-hari seorang pekerja profesional. Mereka tinggal di kawasan Etham, tak jauh dari Lewisham. Selama di London, Ida nyaris tak pernah bertemu orang Indonesia.

Di kelokan jalan dekat stasiun Lee, Ida turun dari bis. Kami terus membelah pagi pukul 8 GMT dengan baju koko dan perangkat shalat dalam tas sandang di pangkuan Karin. Sejam kemudian, kami turun di Bond Street, dan berjalan menuju gedung KBRI.

Telepon Karin berdering. Dari Ida. Ia akhirnya memutuskan untuk menyusul kami: sholat Id di KBRI. Kami bertemu di ruang penitipan mantel di lantai bawah.

Dan selanjutnya adalah kami tenggelam dalam kekhusyukan Idul Fitri. Ada 200-an orang Indonesia menunaikan sholat Id di gedung berlantai empat ini. Pria di lantai bawah, wanita di lantai atas. Ada khotbah singkat.

Saya masuk ke ruang sholat beriringan dengan bekas menteri Hayono Isman. Di deretan tengah, saya melihat bekas Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD), Budiman Sujatmiko dengan dagu berbalut perban. Ada juga wartawan BBC, Susilo yang mengenakan batik, dua saf di depan saya. Hanya tiga orang itu agaknya yang aku kenal.

Ingatan saya melayang ke Makassar, ke wajah ibu saya tercinta, kakak dan adik saya tersayang, Jumadi. Apa gerangan yang mereka lakukan saat ini? Pagi tadi, sekitar pukul 5 dinihari, saya sempat menelpon ke Indonesia. Di sana hari sudah beranjak sore. Mereka tengah menikmati gurih gulai kepala kambing. Rasa haru menyeruak di dada saya. Untuk merekalah, bertahun-tahun dalam hidupku tetap menggumpal semangat. Dan tahun ini, Lebaran saya lewati tanpa mereka.

Keharuan itu sudah ada sejak pagi tadi. Kami terbangun, Karin menelpon ke Depok berkabar dan mengucapkan selamat Idul Fitri pada bapak-ibu dan adiknya. Hati istriku tentu tak kalah senyapnya dari suaminya.

Tak ada suasana Lebaran di kamar ini. Saya membuka komputer, dan mengakses lagu-lagu dari radio Islam. Untunglah, ada suara pengajian Al-Qur'an dari sebuah radio di gurun pasir, entah di mana. Saya sempat membuat nasi goreng sekadar pengganjal perut yang lapar di pagi Lebaran ini. Tak ada ketupat.

Begitulah. Dan di KBRI pagi ini, sholat usai dengan cepat. Kami keluar, bersalam-salaman. Bersama teman-teman peserta Chevening yang rupanya datang -- Anti, Kiki, Dewi -- Rani dan suaminya, Susilo, Budiman Sudjatmiko, dan juga Ida, perempuan Indonesia yang saya kenal di bis kota itu, kami menuju stasiun bawah tanah, dan naik tube ke kediaman Duta Besar Juwono Sudarsono di Wisma Nusantara. Kami keluar di East Finchley Station, berjalan sekitar 500 meter menyusuri trotoar yang dipenuhi guguran daun-daun marble.

Rumah itu terletak di kawasan elit London, Jalan Bishop Grove - Bishops Avenue. Lokasinya di pebukitan, dengan pohon-pohon marbel besar di sekelilingnya. Di belakang rumah ini, sebuah taman besar dengan lapangan tenis di tepinya, sudah ada tenda putih untuk para tamu, masyarakat Indonesia yang datang.

Saya langsung menemukan gairah Lebaran itu: aneka makanan Indonesia disajikan melimpah. Saya langsung menuju meja dengan makanan berlemak yang paling bercita-rasa Melayu: rendang basah. Setelah itu disusul puding, nenas dan mangga, kopi susu.

Silaturahmi berlangsung di sela-sela makan. Saya sempat bertukar sapa dengan Pak Damen, orang Toraja yang menjadi Wakil Duta besar Republik Indonesia di London. Istrinya mengundang kami untuk datang ke rumah mereka pada perayaan Natal mendatang.

Menjelang sore, kami berpamit ke Pak Juwono. Kembali menyusuri jalan yang sama, naik tube langsung menuju Lewisham. Pada stasiun terakhir, tinggal saya, Karin dan Ida. Ida tampak begitu gembira, ia masuk ke komunitas leluhurnya. Di atas kereta, ia sempat menelpon suaminya, mengabarkan pertemuannya dengan kami.

Ida mengundang kami ke rumahnya Sabtu esok, dengan janji hidangan buatannya sendiri. Kami berpisah tepat di halte di ujung Ronver Road. Ida menjemput anaknya.

Malam turun menyelimuti London. Kami kembali ke rumah di Ronver Road. Hari itu, saya dan Karin menemukan kegairahan berlebaran di negeri beribu mil dari Indonesia.

arungtasik@any-mail.co.uk

Monday, November 24, 2003

Malam Lebaran

The Londoner, koran resmi walikota London edisi Desember 2003 memuat berita itu dalam tiga paragraf pendek di sudut bawah halaman dalam. Di bawah judul Eid message for Muslim, Ken Livingstone, walikota London berwajah ramah itu, menyampaikan Selamat Idul Fitri bagi warga muslim kota ini.

Ken Livingstone merasa perlu menyampaikan selamat, meski dalam durasi yang pendek itu, mengingat penduduk muslim London tidak sedikit: 600.000 jiwa dari tujuh juta penduduk. Ucapan sejuk sang walikota ini memang tidak menonjol, di bawah kemeriahan penyambutan Natal yang sebulan lagi.

Saya dan Karin menyambut malam Lebaran tahun ini dalam sunyi. Sembari menuliskan suara hati ini, kami mendengar alunan musik klasik dari compact-disc sisipan koran kemarin sore. Malam Lebaran di kota London di akhir musim gugur, adalah malam-malam di antara 365 hari yang biasa sepanjang tahun. Tak ada asap ketupat, tak ada bau rempah-rempah dari daging yang diguling di atas bara.

Entah esok pagi.

arungtasik@any-mail.co.uk

Sunday, November 23, 2003

Trafalgar Square: Taman Tanpa Tanaman

Hari-hari pertama saya di London dan tentu juga hari-hari mendatang, entah mengapa, kerap bersinggungan dengan tempat ini. Atau memang tak lengkap apabila tak menjejaknya -- sebagai orang yang baru bersua dengan sebuah peradaban tua. Ya, Trafalgar Square adalah pusat kota London, juga landmark kota ini, seperti juga gedung parlemen dengan jam gadangnya yang terkenal: Big Ben.

Lokasinya tepat di ujung jalan besar Whitehall, pusat pemerintahan sipil Inggris, tempat Downing Street berada. Sekilas Trafalgar hanyalah sebuah pelataran depan National Gallery, museum megah yang menyimpan peradaban tinggi kota ini. Pelataran ini ditandai sebuah tugu Corinthia setinggi 53 meter, yang menjadi alas berdiri bagi patung Lord Nelson di pucuknya. Lord Nelson yang ditampilkan amat perkasa memegang pedang, adalah kebanggaan rakyat Inggris, atas kepahlawananya memimpin angkatan laut melawan tentara Napoleon di tahun 1805.

Di kaki tugu ini, empat patung singa berukuran raksasa yang dibangun Sir Edward Landseer di tahun 1867. Singa-singa tembaga ini seperti penjaga bagi tugu Nelson. Dan di pelataran Trafalgar, dua kolam berbentuk teratai yang dibangun di tahun 1939, menjadi pelengkap Trafalgar.

Selebihnya adalah pelataran kosong dari beton yang kukuh tapi apik. Duduk di undakan tangga menuju National Gallery, Trafalgar menjadi tempat yang amat bagus untuk menikmati riuhnya kota London. Bis-bis merah bertingkat yang menjadi ciri khas kota ini melintas dari arah Northumberland Avenue menuju Whitehall atau Cockspur Street.

Orang-orang tak henti memadati pelataran di depan undakan, para turis berfoto dengan latar gedung-gedung tua, burung-burung merpati beterbangan dengan jinak, dan pasangan-pasangan muda memadu kasih di emper-emper sudutnya.

Sekeliling Trafalgar adalah wajah asli kota London. Ada gereja St Martin-in-the-Fields, dan toko-toko cendera mata. Semuanya tampak indah, seperti makanan ringan bagi jiwa yang tandus. Entah berapa banyak kisah yang terjalin di Trafalgar, taman tanpa tanaman, tapi sejuk dengan embusan angin dinginnya yang menusuk kulit.

arungtasik@any-mail.co.uk

Thursday, November 20, 2003

Adzan yang Berkumandang di Trafalgar

Sudah sepekan ini semua sudut kota penuh selebaran dan poster dengan kalimat senada: STOP BU$H (dengan S dalam dolar). Presiden Amerika George W Bush memang berkunjung ke kota London, 17 sampai 21 November 2003. Ia hendak bertemu dengan karibnya yang amat kental -- dalam soal Irak -- Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Bush tiba di Bandara Heathrow disambut Pangeran Charles dengan sapaan khas Texas, ''Howdy''.

Dan seperti biasa, kemana Bush pergi di kolong jagat ini, ia akan mengundang perhatian dunia, juga memantik api protes. London segera dibanjir para pemrotes. Sebuah lembaga swadaya masyarakat, Stop the War Coalition, menjadi penyelenggara protes besar itu. Di papan pengumuman kampus Goldsmith College, University of London di kawasan New Cross, undangan untuk berkumpul di pelataran kampus pada Kamis 20 November, jam 12 siang terpampang sejak beberapa hari lalu.

Dari New Cross, para mahasiswa hendak berpawai menuju pusat penyelenggaraan demo: Trafalgar Square, 200 meter dari Downing Street di kawasan Westminster, kantor perdana menteri Inggris. Dan saya hendak menghadiri demo besar ini.

Dari Lewisham, kami langsung menuju pusat kota. Bis panjang 453 melewati Westminster hanya sesaat sebelum bis-bis dilarang melintas di situ. Saya turun di mulut jalan Whitehall, dan berjalan ke arah Trafalgar. Di ujung Downing Street, puluhan polisi Inggris dalam busana khasnya yang berwarna hijau terang, telah berjaga-jaga. Rupanya, di Downing Street 10, tengah berlangsung pertemuan antara Tony Blair dan George W. Bush. Dari balik pagar tinggi, sekilas saya melihat sekelompok wartawan menunggu di depan pintu kantor ini.

Di seberang jalan, sekelompok pengunjuk rasa dari Amnesty International telah berkumpul. Mereka berseragam merah darah, dengan poster yang menunjukkan kegeraman pada perilaku Bush yang mengundang bala di mana-mana. Polisi di jalan ini melarang saya untuk berlama-lama berdiri di seberang Downing Street.

Kami pun menuju Trafalgar. Di sana, sekelompok demonstran sudah mulai berkumpul. Ada layar televisi raksasa di sudutnya, pengeras suara besar di bawah tugu Nelson, dan poster-poster anti Bush yang dibagi-bagi. Sebuah bendera Palestina tampak dibentangkan di tembok samping undakan menuju National Gallery dengan tulisan besar: Free Palestine di sampingnya.

Melihat aneka poster yang terpampang, ada banyak kepentingan rupanya yang menumpang dalam demo besar ini. Ada juga soal Palestina, soal standar ganda Amerika terhadap Israel yang petantang-petenteng di Timur Tengah, isu nuklir, juga ada isu keterlibatan Inggris secara rahasia dalam perang di Kamboja. Sudut-sudut Trafalgar nyaris jadi pasar kaget, dari penjual cindera mata demonstrasi anti-Bush sampai makanan dengan uang donasi untuk Palestina.

Tapi keramaian ini tetap didominasi oleh isu besar tentang Irak -- dan juga semangat yang sama dalam menentang Bush. George Bush is the greatest threat for the World Peace, begitu tulisan besar di banyak poster yang diacungkan para demonstran. Saya tertegun melihat seorang anak muda Amerika mengangkat poster yang sedikit lain: I proud of my country, I ashamed of my president. Saya ingat cerita Karin tentang teman kuliahnya, seorang pemuda Amerika yang juga sangat bersemangat mengajak mahasiswa Goldsmith turun ke jalan mendemo Bush.

Pusat perhatian dalam unjuk rasa ini adalah panggung di bawah tugu Nelson di tengah Trafalgar. Sebuah patung besar Bush memegang hulu peluru kendali berwarna tembaga berdiri di atas panggung ini. Patung itu menyerupai patung Saddam Husein di pusat kota Baghdad, yang ditumbangkan warga Kurdi bersama tentara Amerika Serikat yang menandai kejatuhan Baghdad dalam perang teluk lalu. Patung itu bertudung kain putih.

Kian petang, Trafalgar kian dibanjiri massa. Belakangan, saya baru tahu, kalau London hari itu benar-benar diwarnai semangat anti-Bush, ada 200.000 orang turun ke jalan-jalan, seluruhnya berpawai menuju Trafalgar. Koran-koran esoknya menurunkan laporan, sebanyak 6.000 polisi Inggris dikerahkan untuk menjaga demo besar ini, dengan biaya pengamanan Bush sebesar 15 juta poundsterling.

Pukul 4.15 sore, saya terhentak oleh sebuah kejutan. Seorang pria berwajah Eropa yang mengenakan kafiyeh, dipersilakan tampil ke atas panggung. Dengan lantunan yang tipis dan panjang, ia membacakan Surah Al-Fathihah, disusul dengan adzan Maghrib yang nyaring. Saatnya berbuka puasa. Puluhan ribu orang yang memadati Trafalgar terdiam, seperti tersihir oleh suara adzan ini. Hiruk pikuk demonstran sontak menjadi senyap.

Saya dan Karin beranjak ke pojok Trafalgar, tempat aktivis Palestina membagikan makanan berbuka puasa dengan gratis. Sebuah apel, roti berlapis daging, dan sekotak jus mangga dibagikan dua lelaki kepada siapa saja yang melintas, disertai senyum ramah. Ada juga buah kurma. Entah dari mana mereka memperoleh dana untuk menjamu banyak orang dengan hati terbuka seperti itu.

Setelah serangkaian pidato membabi buta mengecam Bush, puncak acara pun tiba. Empat larik tambang besar yang terulur ke puncak patung Bush, dipegang oleh perwakilan para pengunjuk rasa. ".... four, three, two, one", dan patung Bush pun tumbang disertai tempik sorak massa. Sempritan, klenongan, tambur, dibunyikan bersama-sama. Layar televisi raksasa memampangkan tulisan dalam huruf raksasa: Down with Bush. Di angkasa Westminster, sudah tiga jam sebuah helikopter mengambang tak bergerak, seperti merekam para pengunjuk rasa.

Malam pun datang, tapi keramaian tak juga surut. Dari mulut-mulut jalan menuju Trafalgar, rombongan demi rombongan massa tetap datang membanjir. Agak lelah, dan puncak acara telah terlewati, saya mengajak Karin untuk kembali. Kami berjalan beberapa kilometer melalui Charing Cross, melintasi Stasiun Waterloo, menyeberangi jembatan di atas Sungai Thames sampai menemukan bis menuju ke rumah.

Di jalan-jalan, aroma demonstrasi masih terasa. Saya ikut merasakan kesedihan rakyat Inggris yang pemerintahnya sungguh membuta mendukung Amerika, dalam perang yang sia-sia di Irak. Saya memang bukan warga negeri ini, tapi saya mulai merasakan hangatnya nurani mereka.

arungtasik@any-mail.co.uk

Sunday, November 16, 2003

Love Actually Premiere

Kaki Hugh Grant terulur keluar dari pintu London Cab (taksi kota yang bertampang tua), dan Leicester Square pun meledak. Gadis-gadis muda London yang menyemut di pagar pembatas depan Odeon Theatre berteriak histeris. Dan Hugh, dengan senyumnya yang memikat -- di dalam dan di luar film -- melangkah ke deretan gadis-gadis yang sudah bersiap dengan kertas dan pulpen. Dalam balutan kemeja biru laut dan jas hitam, Hugh seperti dibungkus cahaya lampu kilat kamera yang tak henti berkeredap.

Karin, istriku, tak mampu menahan haru. Ia, yang lama memendam keinginan melihat aktor ini hanya menggumam: "Saya melihatnya dengan kepalaku sendiri," katanya. Ia berdiri dengan kaki menjejak dua bibir jambangan bunga di depan Radisson Hotel, bersama sejumlah orang. Saya berdiri di bawah menjaganya.

Tapi kemudian, ia melompat juga, ia tampak sedikit menyesal tidak ikut berkerumun di depan pagar itu: tempat Hugh menyampiri orang-orang yang memberi salam hangat. Saya kemudian menggantikannya, naik ke bibir jambangan, dengan tubuh sedikit gemetar oleh udara London yang 10 derajat Celcius.

Minggu 16 November 2003, memang dinanti remaja London dengan sangat antusias. Hari itu, pemutaran perdana film Love Actually di London dihadiri para bintangnya yang berasal dari Inggris. Dalam film itu Hugh Grant yang berperan sebagai perdana menteri yang ganteng, berpasangan dengan tea-lady Martine McCutcheon.

Saya, yang masa kecilnya dihabiskan dengan menonton video pendekar satria bergitar, Rhoma Irama dan film kocak Warkop, bukan orang yang hafal nama-nama para bintang film. Saya tahu Hugh Grant karena Karin pernah menyetel film Notting Hill di rumah kontrakan di Tebet, dulu. Di film itu, Hugh Grant berpasangan dengan Julia Robert. Tapi saya menikmati film itu.

Dan kesempatan untuk bertemu Hugh Grant datang, dua pekan setiba saya di London. Sepekan sebelumnya, kota London memang sudah demam Love Actually. Di halte, di televisi, koran-koran, sudah penuh poster film itu. Pukul tiga sore, sejam menjelang buka puasa, dengan bis kami menuju Leicester Square, sekitar 100 meter dari Trafalgar Square. Tiba setelah buka puasa, tempat itu sudah dipenuhi para a-be-ge London. Pagar setinggi satu meter yang dijaga ketat polisi sudah terpasang.

Karpet merah terhampar sampai ke pintu Odeon. Dan di ujungnya, fotografer tampak berjejer dengan kamera seperti tumpang tindih. Di dekat pintu, wartawan televisi sudah bersiap dengan mike berbalut bulu terjulur, berharap satu dua kalimat bisa tertangkap dari para artis Hollywood berdarah Inggris ini.

Saya kemudian ke McDonald, beli segelas teh (75p), sekadar pengganjal perut buka puasa buatku dan Karin. Setelah lebih sejam menunggu -- dihibur lagu-lagu soundtrack film Love Actually oleh delapan penyanyi di balkon Odeon, prosesi itu dimulai.

Para aktor dan aktris film berdatangan. Ada Martine McCutcheon, Hugh Grant, sutradara Richar Curtis dengan pasangannya Emma Freud, dan banyak lagi. Yang menarik perhatian saya tentu si Bill Nighy yang dalam film berperan sebagai rocker gaek. Ia datang dengan kostum persis di film, diiringi para penyanyi latarnya, enam gadis berbusana meriah: merah dengn bulu wol di tepiannya.

Kian malam, penonton kian berkurang. Yang datang pun tidak lagi mengundang histeria gadis-gadis. Satu aktor yang amat saya senangi ternyata tidak datang: Rowan Atkinson, pak tua bermental kanak-kanak dalam komedi Mr. Bean itu. Tapi sudahlah, saya sudah menikmati salah satu kemeriahan warga kota ini. Kami pulang malam itu dengan senyum yang tetap mengambang sampai London kembali berselimutkan embun pagi.

Rumah yang Membetahkan

Bulan Ramadhan kian menua. Ini pekan ketiga, tapi suasana menjelang Natal lebih dominan. Di mana-mana, di jalan, televisi, katalog-katalog, ada iklan penawaran hadiah Natal.

Tapi saya hendak bercerita tentang rumah. Orang Inggris sangat mengutamakan pelayanan umum. Di rumah, ada air panas, air dingin. Yang dingin bisa langsung diminum. Masak tinggal putar, karena gas mengalir langsung ke dapur dari pusatnya. Tidak ada ganti-ganti tabung. Ada mesin cuci.

Rumah yang lengkap begini, membuat hidup di London menjadi ringan dan tidak mahal -- asal mau memasak. Dan di kota inilah saya belajar memasak, kegiatan yang hanya pernah saya tekuni setengah hati di masa kecil dan di zaman susah di pondokan mahasiswa Tamalanrea, Makassar.

Yang jelas, saya bersyukur tinggal di kota ini. Di Inggris, ada sekitar 3.000 pelajar dan mahasiswa Indonesia. Mereka tersebar di 18 kota, dari Liverpool, Leeds, Manchester. Nah, yang di London ada sekitar 500 orang.

Saturday, November 15, 2003

Maafkan dan Terima Kasih

Di sini orang-orang sangat sopan, tak terbilang kata thank you, sorry, atau excuse me yang saya dengar setiap hari. Mereka selalu mendahulukan yang tua, anak-anak, atau orang cacat. "Please offer your seat to those less able to stand," begitu tertulis di setiap dinding bis.

Nenek-nenek, dengan tongkat atau kursi roda bermesin, bisa berkelayapan sepanjang hari. Hanya hujan dan udara dingin yang menjadi alasan mereka untuk tinggal di rumah. Di jalan, ada banyak yang bersedia menolong. (Kalau di Makassar sudah masuk Buser dia).

Tiba-tiba saja, saya merasa kesulitan mendefinisikan keramahan orang Indonesia. Senyum tapi tidak memberi jalan.

Friday, November 14, 2003

Masih jadi Turis

Baru sepuluh hari saya di London. Seminggu lamanya beradaptasi dengan perbedaan waktu tujuh jam, dan sekarang sudah mendingan:siang tidak lagi ngantuk, dan tengah malam tidak melek.

Dari Lewisham, tempat tinggal kami yang mungil, Greenwich tak seberapa jauh, setengah jam perjalanan dengan bis. Greenwich, sebuah kawasan di London yang jadi patokan waktu dunia. Sebuah toko menulis slogan di singkap depan bangunannya: the first shop in the world.

Udara di sini mulai dingin, sampai-sampai harus memakai baju berlapis-lapis.
Kian hari, saya kian menyadari, London adalah kota seperti kota dalam cerita dongeng: luas, ramai, tapi sangat tertib. Tidak kelihatan polisi lalu lintas, tapi warga kota begitu tertib di jalan. Jalan-jalan sempit, bukan empat jalur seperti di Jakarta, tapi tidak pernah macet. Ke mana-mana, tinggal pakai satu tiket saja, yang berlaku sehari, seminggu, sebulan atau setahun.

Sedikit lebih mahal, naik kereta atau tube (kereta bawah tanah). Kereta bawah tanahnya benar-benar di bawah tanah: 100 meter dari permukaan. Melihat semua yang terasa baru ini, memori saya selalu berputar ke belakang, wahai, jauh amat engkau mengitari kulit bumi ini.

Pekan lalu, saya ke Central London, langsung ke Trafalgar Square -- akan saya ceritakan kemudian --sebuah tempat lapang yang berhadapan dengan museum nasional. Di museum ini ada lukisan dari tahun 1200 sampai awal abad 20.

Saya masuk bersama Karin. Gratis. Saya sempat menanyakan kepada penjaga: yang manakah gerangan lukisan tertua di sini. Lelaki penjaga itu pun ternyata tak begitu pasti: "masuk ke ruangan depan itu, dan belok ke kiri," katanya.

Lukisan itu bertahun 1260-an, tapi keterangannya tak begitu lengkap. Berupa goresan cat tanah liat yang tak lagi utuh di atas lempeng kayu, lukisan itu tampaknya sisa dekorasi dalam gereja entah di mana.

Betapa Inggris begitu menghargai tradisi dan kebudayaannya yang berjalan di atas rel waktu yang begitu panjang. Dan kini, saya ikut menikmatinya.

Keluar dari sana, dengan bis kota, kami melintasi London Bridge, jembatan London yang terkenal membelah Sungai Thames itu. Airnya memang tidak kali di Mambi, tapi ia tak sungguh kotor.

Minggu 9 November, saya ke Istana Buckingham, tempat tinggal ratu yang sangat megah itu. Di sekelilingnya ada taman-taman tempat berkuda, dan saya ke taman itu. Ada juga taman besar yang menjadi tempat berdemo. Melintasi St James Park, kami berjalan menuju Hyde Park yang sudutnya terkenal sebagai Speaks Corner. Guguran bunga marbel berwarna kuning tua cerah di taman luas itu mengingatkan saya pada salah satu hiasan wallpaper di Microsoft Wondows XP.

Hari Minggu, ada demo di sana. Ada yang sekadar teriak-teriak, sendirian, ada yang bahasa Arab. Ada juga yang datang hanya untuk membantah.

Saya pulang, kembali naik bis kota. Tentu di lantai atas, memandang gedung-gedung tua yang apik dan terpelihara. London kembali berselimut gelap dengan lampu-lampunya yang terang seperti mutiara.

Tuesday, November 04, 2003

Selamat Datang

Saya ingat kalimat pertama sebuah novel Pramoedya (Anak Semua Bangsa, Tetralogi Pulau Buru), yang kuucapkan kembali di dalam hati: London kini terhampar di bawah kakiku. Pesawat Thai Air yang membawaku terbang 18 jam dari Jakarta berputar di atas London. Ibukota peradaban Eropa itu masih lelap di dinihari, pukul 6.20, masih subuh di musim gugur. Agak lama, seakan hendak memberiku waktu menikmati serakan lampu yang meriah.

Lalu roda pesawat berdecit di landasan Heathrow, mendarat, penumpang turun menyusuri lorong belalai. Dan, wusssh, embusan dingin angin darat. Ini angin London di ambang musim dingin.

Antre panjang di imigrasi, pemeriksaan kesehatan, lalu bergerak ke meeting-point terminal tiga. Tak ada juga degup di jantung.

Lalu Karin datang dengan pelukan. Pulang ke rumah, di Ronver Road, dengan tube, kereta bawah tanah yang menembus labirin bumi.

London dengan rumah-rumah tuanya seperti pesawahan tanpa hembusan angin: tenang, pelan, dan damai.