Kereta ini sembilan gerbong, dan kami ada di gerbong kelima. Di tengah gerimis yang membasahi Paris kereta ini meninggalkan Stasiun Gare de L'est menuju ke timur.
Kereta berderak, tak ada pemeriksaan apa-apa. Inilah salah satu perjalanan terindah yang kami jalani. Enam jam berkereta menuju Stuttgart adalah enam jam perjalanan tanpa memejamkan mata. Saya duduk dekat jendela, Karin di tengah.
Kereta berderak melewati desa-desa kecil, membelah ladang-ladang gandum yang terserak di sela-sela hutan lindung, peternakan sapi, domba juga danau-danau kecil. Di pertengahan musim panas ini, gandum-gandum tengah siap panen, sebagian bahkan sudah dipetik. Peladangan itu membentang luas hingga ke kaki bukit di kejauhan. Warnanya kuning emas tertimpa terik matahari. Seperti ladang kencana dalam dongeng-dongeng masa kecil.
Satu dua rumah penduduk dengan kastil menjulang di tengahnya, tampak seperti terselip di tengah ladang-ladang gandum ini. Kian ke timur, kian matang gandum-gandum ini. Di sebagian tempat malah sudah dipanen. Merangnya digulung, seperti roda pedati raksasa yang berwarna keemasan.
Ketika tiga jam kemudian kereta berhenti di Nancy, saya baru sadar, ini masih kawasan Perancis. Sekilas saya memandang kota ini, kota yang seperti karib di telinga saya, tapi tak kunjung saya jejaki. Nancy berada di areal pemukiman tidak rata dari bukit ke lembah.
Lalu kereta berjalan lagi. Ladang-ladang gandum telah jarang. Tapi kini, kereta meliuk-liuk di daerah pegunungan. Setelah kota Saverne, yang tampak adalah hutan dan pegunungan. Kereta keluar masuk terowongan menembus perut gunung.
Pada sebuah stasiun kecil, saya membaca nama desa kecil itu: Mommenheim. Kereta ini telah masuk ke wilayah Jerman. Dan benar, 15 menit kemudian, kereta ini berhenti di kota Strasbourg. Dan setelah itu, kota-kota Kohl, Baden-Baden, Karlsruhe, Bruchsal. Menjelang petang, meski matahari musim panas masih bersinar dengan teriknya, kami tiba di stasiun Stuttgart. Ya, tepatnya: Stuttgart Hauptbahnhof.
Tulisan-tulisan berbahasa Jerman sungguh tak kumengerti sama sekali. Dan bahkan lelaki di bagian informasi stasiun pun tak bisa berbahasa Inggris. Jadilah bahasa purba -- bahasa isyarat dengan satu dua kata -- jadi pengantar. Tapi kota Mercedes ini sungguh menggoda. Maka sejak detik itu, kunikmati saja kota ini. Esok hari, akan kuceritakan tentang Stuttgart dengan segenap pesonanya.
(terima kasih untuk Mas Kalis dan Mbak Iin sekeluarga atas tumpangan apartemennya yang asri di Esslingen)
Wednesday, July 07, 2004
Ke Jerman, Berkereta di Ladang Gandum
Sunday, July 04, 2004
Rintik di Kaki Eiffel
Hujan mengguyur Paris sepanjang hari ini. Puncak menara Eiffel samar dalam awan dan cahaya redup matahari. Saya tidak tahu ini masih disebut pagi, sepanjang musim panas matahari telah bersinar terang sejak sebelum pukul lima dinihari. Malam juga datang telat, baru gelap di atas pukul 10 malam.
Kutempuh juga hujan-hujan kecil itu, rinai yang membasahi bahu bajuku. Kami turun di Stasiun Champ de Mars, stasiun terdekat ke Eiffel. Warga Paris mengenalnya sebagai Stasiun Tour Eiffel karena letaknya yang hanya 100 meter dari kaki menara landmark ibukota Perancis itu.
Di sana, di kaki menara, barisan manusia sudah berkelok-kelok. Hujan yang mengguyur kota tak menghalangi mereka, demi menjenguk pelataran atas dan memandang seluruh kota.
Setiap kaki menara seperti tungkai besi yang kukuh menginjak sebuah gedung. Di setiap kakinya ada elevator bersusun. Elevator itu membawa pengunjung ke puncak. Di kaki lainnya, ada tangga untuk mereka yang hendak menjejak pelataran pertama saja.
Tapi kami urung bergerombol dalam antrian. Bagaimana menikmati puncak Eiffel di tengah hujan seperti ini? Kami ke pelataran depan saja, sejauh 500 meter bersama orang-orang yang hendak berfoto berlatar menara. Ada tukang-tukang foto langsung jadi yang menawarkan jasa.
Dari Eiffel, kami kembali ke Champs Elysees Avenue, masuk satu dua toko busana, pameran mobil Perancis Peugeot yang menampilkan si garang Hoggart yang baru dijajal di gurun Afrika, lalu mengayun langkah ke arah Arc de Triomphe. Sungguh kunikmati berjalan di trotoar lebar ini, bergerak bersama ribuan pengunjung Paris yang tiada henti. Di seberang Arc de Triomphe, lagi-lagi saya takjub memandang tugu besar ini: sebuah bangunan raksasa yang mengangkangi jalan.
Saya selalu ingat bayangan tugu ini yang berpendar di malam hari. Televisi-televisi Indonesia menayangkannya berkali-kali ketika Perancis memenangkan Piala Dunia Sepakbola 1998. Sebuah spanduk raksasa dibentangkan di atasnya, menyambut Zinedine Zidane dan kawan-kawan. Saya kini berdiri di bawahnya. Bayangan sekelompok manusia dan kilat lampu kamera terlihat jauh di puncaknya.
Arc de Triomphe berdiri di tengah lingkaran jalan berbatu, seperti jalan kereta di zaman Romawi. Ia juga jadi titik pusat simpang 13 jalan ke seluruh penjuru Paris. Terutama kendaraan yang datang dari arah Champs Elysees yang hendak menuju Avenue de La Grande Armee dan terus Charles de Gaulle Avenue dengan menyeberangi Sungai Seine, akan mengitari tugu ini. Ada banyak tempat di Paris seperti ini. Entah mengapa kota Paris seperti kumpulan rumah-rumah di jalan-jalan yang bertemu di satu persimpangan. Ada persimpangan 10 jalan, 11, 12 dan ini yang terbanyak: 13 jalan.
Kami tak meneruskan langkah ke seberang. Berbalik, naik bis sembarang nomor menuju ujung Champs Elysees yang lain. Di sana ada Musee de Louvre, museum yang jadi rumah bagi Monalisa, lukisan terkenal Leonardo da Vinci. Senyum Monalisa telah memikat jutaan orang dari seluruh dunia dan datang ke Louvre.
>Gerbang museum ini berupa bangunan kaca segitiga tepat di pelataran. Di bawah rintik hujan, ratusan orang juga tampak masih setia mengantri, berkelok-kelok. Paviliun-paviliun bangunan museum berdiri megah mengitari pelataran dalam kemegahan yang menyilaukan. Lagi-lagi, kami memutuskan untuk menikmati Louvre dari luar saja, seperti ratusan orang lain yang duduk-duduk saja di pelataran.
Menjelang sore, kami kembali menyusuri jalur kereta itu, ke Val de Fontanay. Hari ini final Euro 2004. Teramat sayang untuk dilewatkan.
Saturday, July 03, 2004
Lelaki di Val de Fontenay
Ia telah menunggu di bangku tengah Stasiun Val de Fontenay ketika kereta kami tiba. Saya segera mengenalnya, wajah lelaki 70 tahun yang saya kenal pertama kali di Jakarta, setahun silam. "Baru 20 menit kok," katanya ramah. Sobron Aidit, lelaki tua ini tak berubah banyak meski pada wajahnya ada gurat letih. Ia agak gemuk, tapi masih menyisakan kegagahan masa lalu. Ia masih mengingat pertemuan kami -- bersama Karin dan Jajang Pamuncak -- di Jamz Pub, Jakarta.
Dan kini, di sebuah stasiun di timur kota Paris, kami bertemu lagi. Dari London saya menyeberang ke Eropa daratan ini dengan kereta Eurostar yang melewati terowongan bawah laut yang terkenal itu: Euro Tunnel. "Sehat Om?" dia tertawa, ramah sekali. Saya memanggilnya Om, seperti panggilan Karin yang pernah mengunjunginya di Paris, beberapa tahun silam.
Kami berjalan keluar stasiun, menuju halte bis. Udara Paris musim panas sedikit menggerahkan. Sobron membuka jaket. Tak lama kemudian, bis bernomor 124 pun datang. Kami berebut dengan sejumlah orang Afrika yang berjubah warna-warni. Hanya dua kelokan, dan apartemen Sobron di kaki bukit itu telah tampak.
Ia sendirian di apartemen ini, 15 Rue Guynemer, Fontenay Sous Bois. "Ini rumah pembagian untuk pensiunan," katanya. Dua anaknya, tinggal di Amsterdam. Maka dalam sebulan, ia selalu bepergian di antara dua negara itu: Belanda dan Perancis. Apartemen Sobron terbilang sederhana. Di ruang tamu, ada rak buku dengan novel-novel lama berderet di atasnya: Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Umar Kayyam, Seno Gumira Ajidarma, juga buku-buku berhuruf Mandarin. Sekilas saya menangkap kerinduan Sobron pada tanah airnya, Indonesia. Saya menarik sebuah novel tipis. Penulisnya Paula Gomes, warga negara Belanda beribu Jawa. Sudahlah, Biarkan Saja, begitu judul novel ini, yang bercerita tentang kerinduan Paula pada Indonesia, tempat lahirnya.
Saya mengabarkan meninggalnya sastrawan Mochtar Lubis dan bekas Perdana Menteri Soebandrio, Jumat 2 Juli lalu. Kabar yang juga saya baca di media online tanah air. "O ya?" hanya itu reaksinya. Tak kelihatan ia merenung-renung. Ia tidak terkejut. "Mereka sudah tua ya."
Tapi ia bercerita juga tentang Soebandrio. Alkisah, saat pengadilan militer menjatuhkan hukuman mati atas gembong G30S/PKI, Letnan Kolonel Untung, Soebandrio sempat mengucapkan salam padanya. "Sampai ketemu di sana ya," kata Soebandrio kepada Untung. Ia juga dihukum mati. Beruntung bagi Soebandrio, Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter dan Ratu Belanda, Elizabeth berkirim surat ke Suharto, meminta tokoh ini tidak dihukum mati.
Menjelang makan siang ia juga bercerita tentang kakak kandungnya, DN Aidit. "Usia kami terpaut 11 tahun. Ahmad itu anak didik Bung Hatta yang paling disayang," kata Sobron. Ia menyebut DN Aidit sebagai Ahmad. "Itu nama aslinya, Ahmad Aidit. Nama Dipa Nusantara Aidit itu baru muncul setelah ia mengirim proposal ke ayah. Itu alasan politik saja," katanya seraya tertawa.
Menjelang sore di apartemen Val de Fontanay. Di ruang tamu, lagi-lagi saya menatap foto hitam putih berbingkai kayu di atas lemari, foto Sobron muda bersama mendiang istri dan dua anaknya. "Itu foto di Peking tahun 1964. Sudah 40 tahun," katanya.
Sobron berada di Peking (sekarang Beijing) ketika pecah peristiwa 11 September 1965. Ia menjadi profesor ilmu-ilmu tentang Indonesia di sana. Kakaknya, DN Aidit, tewas tertembak di Boyolali. "Untung saya di Peking, kalau tidak, saya tertembak atau dibuang juga ke Pulau Buru," katanya. Sejak itu, ia tak pulang lagi. Ia kemudian pindah ke Perancis 23 tahun silam. beruntung, ia segera mendapat hak kewarganegaraan, juga membuka restoran Indonesia yang laris di kawasan Luxembourg, pusat kota Paris.
Di masa orde Baru, ia tetap menulis ke media-media di Indonesia dan di mana-mana dengan nama samaran. "Saya punya 25 nama samaran selama 32 tahun," katanya tertawa. Dengan paspor Perancis ia juga sudah beberapa kali berkunjung ke Jakarta. Sobron kerap menerima tamu orang Indonesia, wajah-wajah yang memuaskan kerinduannya ke tanah airnya itu. Juga saya yang datang dari kota London.
Sore itu, ia melepas kami yang hendak berpesiar ke pusat kota Paris. benar kata Sobron, tidak sulit menjelajah kota ini bagi mereka yang telah terbiasa bepergian di kota London. Kereta bawah tanah Paris, Metro mirip dengan Tube di kota London. Bedanya, Metro juga adalah kereta api permukaan yang di banyak jalur menyelam ke kedalaman bumi.
Saya menikmati matahari senja kota Paris dengan menyusuri Champs Elysees dari ujung ke ujung, berjalan kaki perlahan-lahan dari arah Musee du Louvre ke ujungnya yang lain di tempat Arc de Triomphe kokoh berdiri menantang angkasa. Permukaan bata Champs Elysees mengingatkan saya pada cerita Alexander Dumas tentang Count of Monte Cristo. Di atas jalan inilah, berabad silam, roda kereta berkuda sang pelaut berderak menjemput Mercedes, sang kekasih, juga mencari lawan-lawan lamanya.
Malam telah turun ketika kami tiba di stasiun Invalides, berkereta bawah tanah menuju Chatelet Les Halles dan berganti kereta menuju Val de Fontenay. Di sana, Sobron Aidit telah menunggu kami dengan ramah, bercerita panjang dan melanjutkan mimpi tentang Indonesia.
Sunday, June 27, 2004
Keseleo Kaki Bintang
Hingar bingar Euro 2004 berhenti di seluruh Inggris ketika David Beckham dan kawan-kawan mengepak koper untuk pulang. Segenap gegap gempita itu hanya sampai detik terakhir drama adu pinalti Inggris lawan tuan rumah Portugal di perempat final Kamis lalu. Setelah itu, segenap rutinitas kembali seperti biasa.
Padahal, baru beberapa hari sebelumnya segenap toko busana seperti menggelar bazaar pakaian bertuliskan England dengan gambar bendera putih bersilang merah. Juga dua macam kaos resmi tim nasional Inggris yang tak murah, laris bak kentang goreng, terutama untuk nomor punggung 7 milik sang kapten, David Beckham dan nomor 9 punya si bongsor Rooney. Petak-petak depan koran Inggris seperti iklan bagi busana-busana resmi itu.
Tapi turnamen itu telah berhenti kini. Tak terlihat lagi orang-orang bergegas ke bar atau pulang ke rumah menjelang kick-off pukul 5 atau 7.45 sore menyaksikan bal-balan British berlaga di layar televisi. Berita terakhir yang saya baca hanya menyebutkan, tulang jari kaki Rooney keseleo dan membutuhkan masa istirahat selama sebulan. Kaos putih tim Inggris yang saya beli di Lilywhites belum lagi terpercik peluh karena tim ini keburu terjungkal.
Membaca koran-koran Inggris, terasa benar betapa di negeri ini media begitu mudah memuja seorang bintang, tapi dalam sekejap juga bisa membantingnya ke dasar lumpur. Tak usahlah bercerita tentang Beckham yang dianggap biang kegagalan tim. Sebuah media pernah menyebutnya "wajah paling dikenal di dunia setelah Yesus". Tapi wajahnya kini jadi bahan olok-olok para kartunis dengan aneka ekspresi.
Lalu Rooney, ia sempat mengecap puja-puji. Tiga hari wajah dan ekspresi girangnya menyita sampul depan seluruh koran Inggris ketika tampil gemilang mencetak empat gol ke gawang Swiss dan Latvia di babak awal. Media-media Inggris sepakat menyebutnya "the new Pele", julukan yang mengundang tawa pelatih Portugal asal Brazil, Luis Felipe Scolari. "Pele itu tidak dilahirkan lagi dalam 1000 tahun. Bahkan tidak akan ditemui dalam game komputer sekali pun," kata Scolari sinis.
Benar, setelah kekalahan Inggris, nama Rooney tak kerap lagi disebut. Pemain Everton di kota Liverpool ini hanya dikabarkan harus istirahat sebulan.
Dan turnamen Euro 2004 pun berhenti di Inggris, kendati siaran langsung seluruh partai di kejuaraan besar ini tetap ditayangkan. Saya yang bukan penggila bola mulai menikmatinya. Setiap pukul 7.45, ketika matahari masih sedang terik-teriknya, saya sudah anteng di depan televisi. Saya menikmati saja semuanya, dan lebih banyak menggumamkan dukungan untuk tim-tim underdog, karena saya mungkin hanya bisa histeris jika Indonesia juga berlaga di tingkat dunia. Kenikmatan itu terasa lengkap tatkala Susilo, wartawan BBC London yang meliput babak awal Euro 2004 pulang dari Portugal dengan buah tangan dua kaos: Euro 2004 dan Hard Rock Cafe Lisbon.
Pada final Euro 2004, 4 Juli besok, saya akan berada di Paris. Tentu kaos Euro 2004 itu akan saya kenakan seraya mendukung tim kecil yang berlaga di final.
Wednesday, June 09, 2004
Harry Beck: Peta Tanpa Skala
Tak dapat saya bayangkan bepergian di kota London tanpa peta. Tentu terlewat-di-sana-bablas-di-sini. Tapi jangan bayangkan jarak geografis jika membaca peta transportasi kota ini. Peta ini tanpa skala dengan arah yang tidak sesuai lekuk liku permukaan bumi. Satu yang pasti: peta jalur transportasi telah menjadi salah satu ikon kota London!
Ia adalah pemandu yang sangat mudah dimengerti dan kini jadi acuan bagi kota-kota padat lalu-lintas seperti Paris, New York, Sydney bahkan Leningrad. Begitu sederhana, sampai terlihat hanya berupa garis aneka warna yang bersilangan di sana-sini. Setiap titik stasiun ditandai dengan lingkaran hitam. Tulisan di atasnya hanya berupa nama stasiun dengan nama jaringan pada catatan kakinya.
Pada mulanya, hanya kereta bawah tanah yang menggunakan peta ini. Adalah Harry Beck, seorang pekerja biasa di jawatan kereta bawah tanah yang gelisah melihat peta yang digunakan dari 1860 sampai 1930-an. Peta yang sesuai lokasi sebenarnya ini, di mata awam begitu rumit.
Padahal, Harry Beck tahu benar: jika sedang berkereta di bawah tanah, siapa gerangan yang sadar akan jarak? Orang hanya peduli pada lokasi stasiun dan persilangannya.
Maka di tahun 1933, di sela-sela waktunya sebagai tukang gambar paruh waktu, ia mendesain peta yang sekilas seperti pasta warna-warni. Setiap jalur ditandai warna tertentu. Jalur Bakerloo berwarna merah (kini jadi coklat), jalur Piccadilly berwarna biru tua, Metropolitan berwarna ungu, dan lain-lain.
Ia menciptakan peta dengan desain yang unik: meniru papan sirkuit elektronik atau dikenal sebagai PCB (Printed Circuit Board) itu, meski Beck sendiri tak pernah menyatakannya. Garis-garisnya bersilangan, tegak, lurus atau miring 45 derajat. Jawatan kereta bawah tanah tertarik dan mencobanya. Dicetaklah sejumlah peta dengan kolom komentar pemakai pada sampulnya.
Tak dinyana, peta ini sukses. Bahkan di kemudian hari, peta jalur kereta bawah tanah ini juga dibuat untuk jalur kereta listrik dan bis kota. Semua buku panduan wisata juga melampirkannya, dan di stasiun-stasiun serta tempat-tempat penjualan tiket, peta Harry Beck kini disediakan dengan cuma-cuma. Juga di semua dinding halte.
Kerap juga ada yang tak puas, bahkan di tahun 1960-an jawatan kereta api Inggris sendiri pernah mencoba menggantinya dengan model peta lain yang "skalanya lebih terpercaya". Tapi ternyata peta Beck tak tergantikan dan akhirnya dijadikan peta resmi transportasi kota ini.
Harry Beck meninggal di tahun 1974, tapi peta sirkuit bawah tanah yang ditinggalkannya tetap abadi. Karyanya itu juga diadopsi untuk jaringan transportasi lain seperti kereta dan bus kota di seluruh negara modern di dunia.
Sebuah laporan menyebutkan, diagram tak berskala itu dicetak 60 juta lembar setiap tahunnya. Tidak untuk jadi pedoman semata-mata, tapi diterakan di atas cenderamata, porselen, kartu pos atau kaus oblong bagi jutaan pengunjung London setiap hari. Bahkan seorang warga London merajah punggungnya dengan tattoo peta berwarna lengkap dengan nama stasiunnya!
Lebih dari itu, peta Harry Beck kini jadi salah satu ikon kota London. Bill Bryson, penulis petualang dalam buku reportasenya yang laris, Notes from a Small Island, menyebut peta transportasi London sebagai temuan peradaban paling menakjubkan.
Sayangnya, untuk pekerjaan membuat peta itu, Harry Beck hanya menerima bayaran 5 guineas (mata uang lama Inggris) atau senilai 5,25 poundsterling! Di luar itu, ia dihargai dengan sebuah plakat tentang pekerjaannya -- plakat yang kini terpasang di sebuah pojok Stasiun Finchley.
Saturday, June 05, 2004
Cleopatra
Di sayap barat British Museum sore itu saya menemukan perempuan ini -- perempuan yang telah berbaring dua milenium lamanya. Hanya lukisan wajah ayu pada dinding keranda di balik kaca yang memandu bayangan saya tentang wajah dan lekuk tubuhnya.
Pada Cleopatra, wanita yang jazadnya berlilitkan kafan kuno di British Museum ini, kecantikan itu seperti abadi – paling tidak dalam benak para pengunjung. Dialah nama yang kejelitaannya mengarungi zaman.
Tapi benarkah dia cantik?
Mumi Cleopatra di British Museum tiba di London sejak 1823. Ia digali dari sebuah komplek pemakaman kuno di Mesir. Ia adalah putri Candace, keturunan keluarga Soter di masa kekuasaan Romawi di bawah Raja Ramses II pada sekitar abad II Masehi. Jika dirujuk ke leluhurnya, ia masih berdarah Yunani. Muminya ditemukan utuh dalam peti mayat yang berlukiskan wajah dirinya. Sementara jazadnya berlilitkan kain kuno dari katun berwarna khaki. Bersamanya juga ditemukan seuntai kalung bermanik-manik dan sisir. Di dasar peti, ada lukisan dewi berkabung Mesir bersama seekor serigala yang memegang kunci pintu nirwana.
Tulisan kuno di dinding peti menyebut usia Cleopatra saat meninggal: 17 tahun, 1 bulan dan 25 hari, usia mekar perempuan pada zamannya. Tanpa membuka kafan, Princess Grace Hospital London kemudian menyingkap jazadnya lewat sinar-X. Perempuan ini masih memiliki kerangka yang utuh, sendi-sendinya masih saling bertautan dan mulutnya dalam keadaan setengah membuka. Beratnya, bersama lumpur yang membalsem tubuh, menjadi 75 kilogram.
Memandang mumi perempuan ayu ini, serta-merta pameo bijak yang tak lekang oleh zaman melintas di benak saya: bahwa kecantikan hanya sebatas kulit.
Jauh sebelum masa hidupnya, ada Cleopatra lain yang menjadi simbol kecantikan abadi. Dialah Cleopatra VII, putri Firaun yang lahir 69 tahun sebelum Masehi. Cleopatra yang ini berdarah Macedonia, Eropa tenggara. Di usia 17 tahun ia telah menjadi Ratu Mesir. Perempuan ini cerdas, bicara dalam sembilan bahasa, bersuara merdu dan lagaknya amat menggoda.
Tapi benarkah dia cantik?
Apapun faktanya, setelah menikahi saudaranya sendiri sesuai tradisi Mesir kuno, Ptolemy XIII yang masih berusia 12 tahun, Cleopatra kemudian jadi simbol kecantikan dunia sampai sekarang.
Setelah bercerai dengan suami yang mengkhianatinya, ia kemudian sempat menikah dengan dua lelaki legendaris sepanjang sejarah peradaban dunia. Pertama, dengan Kaisar Romawi, Julius Caesar yang menaklukkan Mesir. Saking gembiranya menaklukkan hati Cleopatra, sebuah kisah menyebutkan, mereka berbulan madu dengan berperahu di atas Sungai Nil selama dua bulan! Lalu Cleopatra hamil dan melahirkan Ptolemy XV yang berjuluk Little Caesar. Cleopatra juga sempat berkunjung ke Roma, pusat kekuasaan suaminya dan disambut penuh kebesaran. Ia tinggal di sana selama dua tahun.
Lalu kemudian ia menundukkan hati penguasa Romawi berikutnya yang tak kalah besarnya, Marcus Antonius. Dari pernikahan mereka lahir tiga anak, sepasang anak kembar Cleopatra Selene dan Alexander Helios, dan Ptolemy Philadelphus. Tiga anaknya di tahun 34 SM kemudian jadi penguasa di tiga tempat: Alexander Helios raja di Armenia, Cleopatra Selene jadi ratu Cyrenaica dan Crete, dan Ptolemy Philadelphus jadi raja Syria. Jadilah Cleopatra Queen of Kings.
Tapi benarkah mereka cantik?
Di atas koin kuno Mesir, wajah Cleopatra VII tercetak sebagai perempuan dengan hidung bengkok, kulit gelap dan garis wajah yang cenderung maskulin.
Zaman berganti, pandangan terhadap kecantikan tampaknya berubah pula. Tapi nama Cleopatra telanjur jadi simbol. Entah kalau mereka hidup di zaman kini, mungkin hanya seperti gadis tetangga yang berjalan menyusuri koridor sebuah pusat perbelanjaan di tengah gemerlap produk kecantikan modern. Hanya sesekali mereka mengundang lirikan.